WELCOME TO MY BLOGG
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 November 2013

SERAT SABDO PALON

SABDO PALON DAN NOYO GENGGONG sejatinya adalah “Penuntun Gaib Yang Mewujud”.
Beliau berdua senantiasa hadir mengiringi raja-raja Jawa jaman Hindu-Budha. Beliau berdua pergi meninggalkan tanah Jawa semenjak keruntuhan Majapahit th 1400 Saka atau 1478 Masehi. Terkenal dengan SURYO SENGKOLO {kata sandi penanda tahun kejadian} yang sangat popular yaitu SIRNA ILANG KERTHANING BHUMI {Sirna-0 Ilang-0 Kertha-4 Bhumi-1} 1400 Saka. Kalimat Kerthaning Bhumi diambil dari nama asli Prabu Brawijaya pamungkas/terakhir yaitu Raden Kertha Bhumi.

Janji kedatangan SPNG diucapkan di Blambangan, ketika Majapahit hancur diserang oleh pasukan Demak Bintara yang dipimpin oleh R.Patah yang merupakan putra selir Prabu Brawijaya sendiri dengan putri China . Prabu Brawijaya meloloskan diri ke arah timur hendak menyeberang ke Bali, namun masih bertahan sementara di Blambangan (Banyuwangi sekarang).

R.Patah pimpinan Demak Bintara merasa bangga dapat menghancurkan Majapahit yang dia anggap sbg Negara kafir. Serta merta setelah mendengar kabar berhasilnya dikuasai Majapahit oleh pasukannya, R.Patah datang dari Demak ingin melihat langsung keadaan Majapahit, setelah itu dengan rasa bangga beliau meneruskan perjalanannya ke pesantren Ampeldhenta hendak mengabarkan keberhasilannya. Namun ternyata Nyai Ageng Ampel, istri alm. Sunan Ampel malah mempersalahkannya. Nyai Ampel mengingatkan kepada R. Patah bahwa dulu semasa Sunan Ampel masih hidup beliau berpesan dan berfatwa bahwa Haram hukumnya bagi murid-murid beliau ikut campur masalah politik atau malah berani merebut kekuasaan Majapahit. Bahkan dengan tegas Nyai Ampel menambahkan bahwa R.Patah telah berdosa 3 hal :
1.         Kepada Guru, karena telah melanggar wasiat Sunan Ampel.
2.         Kepada Ayah, karena prabu Brawijaya adalah ayah kandung R.Patah.
3.         Kepada Raja, karena raja adalah imam tidak boleh dilawan tanpa alasan yang
benar.
Sebab selama prabu Brawijaya memerintah tidak pernah melarang penyebaran agama Islam di tanah Jawa ini, bahwan beliau menghadiahkan tanah Ampeldenta (Surabaya sekarang) sebagai daerah otonom. Diijinkan untuk dipakai basis pendidikan agama bagi orang-orang muslim.

Dengan sangat menyesal R. Patah meminta petunjuk bagaimana cara menebus kesalahannya. Nyai Ampel menyarankan agar kedudukan prabu Brawijaya dikembalikan. Namun yang menjadi masalah adalah kemanakah Sang Prabhu meloloskan diri. Perkiraan Nyai Ampel sang prabu ke Bali. R. Patah berniat menyusul sendiri, namun dicegah oleh Nyai Ampel, karena setelah penyerangan Majapahit oleh pasukan Islam maka tidak satupun orang Islam akan dipercayai oleh Sang Prabu. Tidak R. Patah, Nyai Ampel atau para wali yang turut serta membantu penyerangan tersebut. Hanya ada dua wali yang masih beliau percayai yaitu Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. Karena kedua wali ini terang-terangan menentang penyerangan pasukan Islam ke Majapahit.

Karena hubungan R.Patah dengan Syekh Siti Jenar tidak begitu baik, maka dia meminta pertolongan Sunan Kalijaga untuk melacak keberadaan ramandanya. Dan jika ditemukan, dimohon dengan segala hormat untuk kembali ke Trowulan, Ibukota Majapahit untuk dikukuhkan lagi menjadi Raja. Sunan Kalijaga bersedia membantu. Ditemani oleh beberapa santrinya beliau langsung melakukan pencarian ke arah timur. Dan ternyata benar, di Blambangan banyak umbul-umbuk pasukan Majapahit serta para prajurit yang siap tempur berkumpul di sana. Dan benar pula prabu Brawijaya masih ada di Blambangan belum menyebrang ke Bali. Agak kesulitan Sunan Kalijaga memohon bertemu dengan Sang Prabhu, namun karena sang prabu tahu betul bahwa Sunan Kalijaga yang seringkali dipanggilnya R. Sahid itu, menurut teliksandi Majapahit Sunan Kalijaga beserta pengikutnya tidak ikut membantu penyerangan kpd Majapahit, maka sunan Kalijaga diijinkan menghadap dengan kawalan ketat.

Disinilah dialog Serat Sabdo Palon terjadi. Prabhu Brawijaya ditemani Sabdo Palon dan Noyo Genggong berhadapan dengan Sunan Kalijaga beserta sesepuh Majapahit yang kebetulan bersama-sama Sang Prabhu hendak menuju Bali, menyusul beberapa masyarakat jawa yang lebih dahulu melarikan diri ke sana. Mendengar penuturan Sunan Kalijaga, Sang Prabhu luruh hatinya. Karena sejatinya Sang Prabhu kini tengah menggalang kekuatan untuk merebut kembali tahta dari tentara Islam. Tidak bias dibayangkan bila itu terjadi, karena pendukung Sang Prabhu masih tersebar di seluruh Nusantara. Pertumpahan darah yang lebih besar pasti akan terjadi. Putra2 Brawijaya masih banyak yang berkuasa dan mempunyai kekuatan tentara yang besar seperti Adipati Handayaningrat IV di Pengging, Lembu Peteng di Madura, Bondhan Kejawen di Tarup dan banyak lagi.

Sunan Kalijaga meminta agar pertikaian dihentikan, dan sudilah kiranya Sang Prabhu kembali memegang tampuk pemerintahan. Prabhu Brawijaya menolak karena jika itu terjadi maka beliau akan merasa terhina oleh putranya sendiri. Bagaimana tidak seorang ayah harus menerima tahta dari putranya sendiri, ini memalukan. Ketika perundingan menemui jalan buntu, Sunan Kalijaga menyarankan agar Sang Prabhu mau memeluk agama Islam. Dengan demikian seluruh pendukung beliau pasti akan meninggalkan satu persatu, dan pertumpahan darah yang lebih besar dapat dihindari. Mendengar akan hal itu Prabhu Brawijaya tercenung, untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar usulan Sunan Kalijaga memang masuk akal. Demi perdamaian Sang Prabhu mengesampingkan egonya. Maka penuh dengan kebesaran hati beliau menyatakan MASUK ISLAM.. Terkejutlah seluruh yang hadir termasuk Sabdo Palon dan Noyo Genggong, hingga terlontarlah sebuah janji yang tercantum pada Serat Sabdo Palon diatas.

Sepeninggal SPNG sang prabgu bersedia kembali ke Trowulan, namun bukan untuk kembali menduduki tahta tetapi mendamaikan seluruh kerabat Majapahit agar merelakan tahta dipegang oleh R. Patah. Dalam perjalanan pulang inilah Sunan Kalijaga memohon untuk memotong rambut sang Prabhu dengan sebilah keris. Setelah diijinkan Sunan Kalijaga memotong rambut beliau tapi ternyata tak sehelaipun terpotong. Sekali lagi Sunan Kalijaga meminta keikhlasan Sang Prabhu memeluk Islam, dan sekali lagi Sunan Kalijaga memotong rambut beliau, dan kali ini terpotong sudah.

Namun Sunan Kalijaga belum puas, menjelang berangkat kembali ke Trowulan Sunan Kalijaga mengambil air comberan yang berbau sangat tidak sedap dan dimasukkan pada bilah bambu (Bumbung). Dihadapan Sang Prabhu beliau menyatakan, apabila air comberan ini sesampainya di Trowulan berubah tidak berbau busuk, nyata sudah bahwa Sang Prabhu telah lahir batin masuk Islam. Berangkatlah rombongan itu ke Trowulan. Sesampainya di Trowulan disambut sukacita oleh masyarakat Trowulan. Air dalam bilah bambu itu dicurahkan oleh Sunan Kalijaga dan ternyata bau busuknya hilang, bahkan airnya berubah jernih. Untuk mengingat akan hal itu, Blambangan diubah namanya menjadi BANYUWANGI hingga sekarang.

Tidak beberapa lama di Trowulan Sang Prabhu sakit. Putra-putranya datang berkumpul. Melalui Sunan Kalijaga beliau ,mengamanatkan agar menghenttikan pertumpahan darah Hindu-Budha dengan Islam. Biarkanlah R.Patah bertahta sebagai raja Jawa walau sebenarnya keturunan dari Pengginglah yang lebih berhak.

Menjelang akhir hayat beliau berpesan agar diatas pusara makam beliau nanti jangan di beri tanda bahwasannya beliau adalah Prabhu Brawijaya Raja Majapahit terakhir. Namun tandailah dengan nama Putri Champa Anarawati permaisuri beliau. Sebab beliau merasa diperhinakan sebagaimana wanita oleh putranya sendiri. Dewi Anarawati, putri Champa yang beragama Islam adalah bibi Sunan Ampel, dan beliaulah yang menyarankan agar sang Prabhu memberikan Ampeldhenta kepada Sunan Ampel untuk didirikan sebuah pesantren Islam. Maka jangan heran apabila di Trowulan tidak ditemukan makam Prabhu Brawijaya, melainkan Putri Champa. Padahal makam Putri Champa yang asli berada di Gresik. Begitu Majapahit diserang pasukan Islam, beliau diungsikan ke Gresik hingga beliau wafat disana.


Catatan ini diringkas dari Banyak buku diantaranya Babad Tanah Jawa, Pararathon dan Novel Sabdo Palon. Tujuannya adalah untuk koreksi kedalam diri penulis sendiri, dan betapa sesungguhnya nenek moyang kita itu ternyata jauh lebih hebat dari pada kita-kita sekarang ini. Bagi generasi sekarang ini kita bisa belajar banyak dari petikan kisah diatas bahwasannya sebuah ajaran apapun bagusnya bila tidak membangun akhlak maka ajaran itu hanya akan menimbulkan perpecahan dan peperangan antar sesama manusia. Bila ajaran atau agama sudah ditumpangi berbagai kepentingan, bukan lagi setuhu untuk membangun sejatining urip manusia maka itu bukan lagi murni ajaran bagi kebaikan.

Coba kita amati apa yang terjadi di Nusantara ini hampir 2 dasa warsa ini, semua yang diuraikan dalam Serat Sabdo Palon satu persatu mulai berwujud atau terjadi.


Wallahualam….semua kembali pada Kehendak Tuhan Yang Berkuasa atas alam semesta ini. Sekarang kembali kepada pribadi masing-masing, akankah kita tetap mengedepankan ego kita dan menganggap segala sesuatu yang kita yakini ini harus juga diyakini semua orang? Ataukah kita kembalikan kepada pribadi masing-masing dan kita hormati pilihan keyakinan mereka? Pilihan ada ditangan anda semua. Sedikit saya sampaikan bahwa penulis adalah seorang mualaf, Namun begitu bagi penulis memahami keislaman tidak dengan gebyah uyah atau ditelan mentah-mentah. Bagi penulis Islam itu flexible dengan tempat dimana disebarkan dan dengan perkembangan jaman. Sedikit uraian penulis tentang pemahamannya.


SERAT SABDO PALON
“Sinom”

Pada Sira Ngelingono
Carita Ing Nguri-Uri
Kang Kocap Ing Serat Babad
Babad Nagari Mojopahit
Sang-a Brawijaya Prabu
Pan Samya Pepanggih     
Kaliyan Njeng Sunan Kali
Sabdo Palon Noyo Genggong Rencangiro
Ingatlah kalian semua
Akan cerita masa lalu
Yamg tercantum dalam Babad {Sejarah}
Babad Negara Majapahit
Sang Prabu Brawijaya
Ketika itu tengah bertemu
Dengan kanjeng Sunan Kalijaga
Ditemani Sabdo Palon dan Noyo Genggong

Sang-a Prabu Browijoyo
Sabdanira arum manis
Nuntun dhateng Punokawan
Sabdo Palon paran karsi
Jenengsun sapuniki
Wus Ngrasuk Agama Rasul
Heh To kakang manira
Meluwo agomo suci
Luwih becik iki agomo kang mulyo
Sang prabu Brawijaya
Bersabda dg lemah lembut
Mengharapkan kpd ke2 punakawannya
Tapi Sabdo Palon tetap menolak
Diriku ini sekarang
Sdh memeluk agama Rasul {Islam}
Wahai kakang kalian berdua
Ikutlah Memeluk Agama Suci
Lebih baik krn ini agama yang mulia

Sabdo Palon matur sugal
Yen kawulo mboten arsi
Ngrasuko agomo Islam
Wit puniki Yekti
Ratuning Dang Yang Jawi
Momong marang anak putu
Sagung kang poro noto
Kang jumeneng ing tanah Jawi
Wus pinesthi sayekti kulo pisahan
Sabdo palon menghaturkan kata2 keras
Hamba tidak mau
Memeluk agama Islam
Sebab hamba ini sesungguhnya
Raja DangHyang tanah Jawa
Memelihara kelestarian anak cucu
Serta semua para raja
Yang memerintah di tanah Jawa
Sdh mjd suratan karma kita harus berpisah

Klawan Paduka sang noto
Wangsul maring sunyo ruri
Mung kula matur petungno
Ing benjang sak pungkur mami
Yen wis prapto kang wanci
Jangkep gangsal atus taun
Wit ing dinten puniko
Kulo gantos agami
Gomo buddhi sebar ing tanah Jowo
Dg paduka wahai sang raja
Kembali ke alam sunyo ruri
Hanya saya menghaturkan sebuah pesan
Agar paduka menghitung
Kelak sepeninggal hamba
Apabila sdh dtg waktunya genap 500th
Mulai hari ini
Akan saya ganti agama {di Jawa}
Agama Buddhi akan sy sebarkan ditanah Jawa
  
Sinten tan purun Nganggeyo
Yekti kulo rusak sami
Sun sajekaken putu kulo
Berkakasan rupi-rupi
Dereng lego keng ati
Yen during lebur atempur
Kula damel pratondo
Pratondo tembayan mami
Hardi Merapi yen wis njeblug mili lahar
Siapa saja yg tdk mau memakai
Akan saya hancurkan
Akan saya berikan kpd cucu sy sbg tumbal
Makhluk halus berwarna warni
Belum puas hati hamba
Apabila belum hancur lebur
Saya akan membuat pertanda
Pertanda sbg janji serius saya
Gng Merapi apabila sdh meletus mengeluarkan lahar

Ngidul ngilen purug iro
Nggada banger ingkang warih
Nggih puniko wedal kulo
Wus nyebar agomo buddhi
Merapi janji mamai
Anggereng jagad satuhu
Kersaning Jawoto
Sedoyo gilir gumanti
Mboten kenging kolomunto kaowahan
Kearah selatan barat mengalirnya
Berbau busuk air laharnya
Itulah waktunya
Sdh mulai menyebarkan agama buddhi
Merapi janji saya
Menggelegar seluruh jagad
Kehendak Tuhan
Krn sglanya pasti akan berganti
Tidak mungkin untuk dirubah lagi

Sanget-sangeting sangsoro
Kang tuwuh ing tanah Jawi
Sinengkalan tahuniro
Lawon Sapto Ngesti Adji
Umpami Nyabrang kali
Pratheng tengah-tengahipun
Kaline banjir banding
Jerone nglelepno Jalmi
Kathah sirno manungso praptheng praloyo
Sangat2 sengsara
Hidup di tanah Jawa
Sinengkapan tahun
Lawon-8 Sapto-7 Ngesti-9 Adji-1 = 1978
Seandainya menyebrang sungai
Ketika msh berada ditengah-tengah
Banjir bandhang akan dtg tiba2
Tingginya air menenggelamkn manusia
Banyak  manusia hilang dan mati

Beboyo ingkang tumeko
Waroto sak tanah Jawi
Ginawe kang peparing gesang
Tan kenging dipun sanggahi
Wit ing donyo puniki
Wonten ing sak kwasanipun
Sedoyo pro jawoto
Kinaryo amertandani
Jagad iki yekti kang akaryo
Bahaya yang datang
Merata di seluruh tanah Jawa
Diciptakan oleh Yang Memberi Hidup
Tidak bias untuk ditolak
Sebab di dunia ini
Dibawah kekuasaan Nya
Tuhan dan Para Dewa
Sebagai bukti
Jagad ini ada yang menciptakan

Warno-warno kang beboyo
Angrusakken tanah Jawi
Sagung tiyang nambut karyo
Pedamel mboten nyekapi
Priyayi keh beranti
Sudagar tuno sedarum
Wong glidig ora mingsro
Wong tani ora nyukupi
Pametune akeh sirno aneng wono
Bermacam-macam mara bahaya
Merusak tanah jawa
Semua yang bekerja
Hasilnya tidak mencukupi
Pejabat bnyk yg lupa daratan
Pedagang mengalami kerugian
Yang berkelakuan jahat smakin banyak
Yg bertani tidak mencukupi
Hasilnya bny terbuang di hutan/alas

Bhumi ilang berkatiro
Omo kathah kang ndatengi
Kayu kathah ingkang ilang
Cinolong dining sujanmi
Pan risaknyo nglangkungi
Karono rebut rinebut
Risak tataning janmo
Yen ndalu grimis keh maling
Yen rino-wa kathah tetiyang ambegal
Bumi hilang berkahnya
Banyak hama mendatangi
Pepohonan bny yang hilang
Dicuri manusia
Kerusakan sangat parah
Sebab saling berebut
Rusak tatanan moral masyarakat
Apabila malam hujan bny pencuri
Apabila siang banyak perampok

Heru hara sakeh janmo
Rebutan ngupoyo angering projo
Tan tahan perihing ati
Katungka prapto neki
Pageblug ingkang linangkung
Leloro mgombrop-ombro
Waroto ing sak tanah Jawi
Enjing sakit sorenyo sampun praloyo
Huru hara seluruh manusia/perang saudara
Berebut kekuasaan kerajaan/projo
Tidak tahan pedihnya hati
Disusul datangnya
Pagebluk yang panjang
Penyakit berjangkit dimana mana
Merata se tanah Jawa
Pagi sakit sorenya mati

Kesandung wohing praloyo
Keselak banjir ngemasi
Udan barat salah mongso
Angin gung nggegirisi
Kayu gung brasto sami
Tinempuhing angina agung
Kathah rebah amblasah
Lepen-lepen samyo banjir
Lamun tinom pan pados samodro beno
Blm selesai wabah kematian
Ditambah banjir bandang smakin menggenapi
Angin besar mengerikan
Pohon2 besar bertumbangan
Disapu angina yg besar
Banyak yang roboh berserakan
Sungai2 banyak yang banjir
Apabila dilihat bagaikan lautan

Alun minggah ing ndaratan
Karyo ngrusak tepis wiring
Kang dumunung keirng kanan
Kajeng akeh ingkang keli
Kang tumuwuh apinggir
Samyo kentir trusing laut
Selo geng sami brasto
Kabalebeg ketut keli
Gumalundung gumludhug swaraniro
Ombak naik ke daratan / tsunami
Membuat rusak pesisir pantai
Yang berada di kiri kanannya
Pohon banyak yg hanyut
Yang tumbuh di pesisir
Hanyut ke tengah lautan
Bebatuan besar hancur berantakan
Tersapu ikut hanyut
Bergemuruh nyaring suaranya

Hardi agung agung samyo
Huru horo nggegirisi
Gumelar swaraniro
Lahar wutah kanan kering
Ambleber anglelepi
Nrajang wono lan deso gung
Manungsonyo keh brasto
Kebo sapi samyo gusis
Sirno gempang tan wonten monggo puliho
Semua gunung berapi
Huru hara mengerikan
Menggelegar suaranya
Lahar tumpah ke kanan dan kekiri
Menenggelamkan
Menerjang hutan dan perkotaan
Manusia banyak yang mati
Kerbau sapi habis
Sirna hilang tidak bias dipulihkan lagi

Lindu ping pitu sedino
Karyo sisahing sujanmi
Sitinipun samyo nelo
Brekakasan kang nglelesi
Anyeret sagung janmi
Manungso pating galuruh
Kathah kang nandang rogo
Warno-warno ingkang sakit
Awis waras akeh klang prapteng praloyo
Gempa bumi sehari 7 kali
Membuat ketakutan manusia
Tanah banyak yang retak2
Makhluk halus yg ikut membantu amarah alam
Menyeret semua manusia
Manusia menjerit-jerit
Banyak yang terkena penyakit
Berbagai macam penyakitnya
Jarang yg bias sembuh malah banyak yang menemui kematian

Sabdo Palon nulyo mukswa
Sakedhep mboten kaesi
Wangsul ing jaman limunan
Langkung Nggugun Sri Bupati
Njegreg tan biso angling
Ing manah langkung gegetun
Kadhuwung lepatiro
Mupus karsaning Dewadi
KODRAT IKU SAYEKTI TAN KENO OWAH
Sabdo Palon kmudian Muksa/menghilang
Sekejap mata tak terlihat lagi.
Kembali kealam misteri
Sangat keheranan sang Prabu
Terpaku tak bias bergerak
Dalam hati merasa menyesal
Merasa telah berbuat salah
Akhirnya hanya bias berserah pada Tuhan
Janji yang telah terucap itu sesungguhnya tidak bias dirubah lagi.

Selasa, 27 Agustus 2013

PANTAI SADENG, MENGUNJUNGI MUARA SUNGAI BENGAWAN SOLO PURBA



Dahulu kala Sungai Bengawan Solo mengalir tenang dari hulunya di wilayah utara hingga bermuara di Pantai Sadeng yang kini berada di Kabupaten Gunung Kidul. Namun, empat juta tahun yang silam, sebuah proses geologi terjadi. Lempeng Australia menghujam ke bawah Pulau Jawa, menyebabkan dataran Pulau Jawa perlahan terangkat. Arus sungai akhirnya tak bisa melawan hingga akhirnya aliran pun berbalik ke utara. Jalur semula akhirnya tinggal jejak yang perlahan mengering karena tak ada lagi air yang mengalirinya. Wilayah ini menjadi kaya akan bukit-bukit kapur yang menurut beberapa penelitian, semula merupakan karang-karang yang berada di bawah permukaan laut.



Kini, bekas aliran sungai yang populer lewat lagu keroncong berjudul Bengawan Solo ciptaan Gesang itu menjadi objek wisata menarik. Tak ketinggalan Pantai Sadeng yang menjadi muaranya, selain menjadi objek wisata juga menjadi salah satu pelabuhan perikanan besar di Yogyakarta. Keduanya menjadi jejak geologi yang berharga. Beberapa waktu lalu, sempat diadakan paket wisata menyusuri jalur Bengawan Solo Purba hingga muaranya.




Dalam perjalanan menuju Pantai Sadeng, beberapa ratus meter jalur aliran Bengawan Solo Purba bisa dinikmati pemandangannya. Jalur aliran itu bisa dilihat setelah sampai di dekat plang biru bertuliskan "Girisubo - Ibukota Kecamatan". Berhenti sejenak di pinggir jalan menuju pantai atau berjalan perlahan adalah cara paling tepat untuk menikmati pemandangan bekas aliran ini, sekaligus memberi kesempatan mengabadikannya dengan kamera.




Tampak dua buah perbukitan kapur yang tinggi memanjang mengapit sebuah dataran rendah yang semula adalah jalur aliran. Dataran rendah yang kini menjadi lahan berladang palawija penduduk setempat itu berkelok indah, memanjang sejauh 7 kilometer ke arah utara, hingga wilayah Pracimantoro di Kabupaten Wonogiri. Kelokannya membuat mata tergoda untuk menyusurinya ke utara hingga ke tempat pembalikan aliran sungainya.




Jalur aliran juga bisa disusuri ke arah selatan hingga bekas muaranya di Pantai Sadeng. Menurut penuturan salah seorang nelayan, muara Bengawan Solo Purba berada di pantai sebelah timur, wilayah yang kini termasuk areal pelabuhan perikanan. Meski demikian, penyusuran ke selatan tak akan seindah ke utara, sebab jalan yang menuju ke Pantai Sadeng tidak searah dengan jalur aliran sungai terbesar di Jawa itu.




Bila telah sampai ke pantainya, maka pemandangan berbeda akan dijumpai. Wilayah pantai juga telah mengalami perubahan, seperti jalur aliran yang kini menjadi ladang-ladang penduduk. Pantai Sadeng kini menjadi pelabuhan perikanan di Yogyakarta yang paling maju, terbukti dengan kelengkapan sarana pendukungnya, seperti perahu motor yang berukuran lebih besar, terminal pengisian bahan bakar, rumah pondokan nelayan hingga tempat pelelangan ikan dan koperasi.




Berkembangnya Sadeng sebagai pelabuhan ikan pun punya cerita tersendiri. Sekitar tahun 1983, serombongan nelayan ikan dari Gombong, Jawa Tengah datang ke tempat ini. Mereka menganggap Sadeng sangat berpotensi sebagai tempat melaut. Tantangannya cukup berat, bukan hanya karena ombak laut selatan yang besar, tetapi juga kepercayaan penduduk setempat yang tak memperbolehkan melaut dan wilayah pantai yang konon wingit.




Namun, salah satu nelayan bernama Pairo yang ditemui YogYES, mengungkapkan bahwa nelayan Gombong saat itu berkeyakinan, "Sopo Wae mlebu Sadeng Sedeng". Berarti, siapa saja berani tinggal di Sadeng akan diberi kekuatan untuk hidup. Akhirnya, bertahanlah serombongan nelayan dari Gombong itu, sedikit demi sedikit hingga hasil tangkapan ikan pun terus meningkat dan mereka mampu bertahan hidup.




Kemajuan pun terus dicapai. Tahun 1986, didirikan tempat pelelangan ikan dan dibangun pelabuhan yang dilengkapi mercusuar untuk mendukung aktivitas perikanan. Sekitar tahun 1989, berdiri sebuah koperasi untuk membantu para nelayan. Hingga akhirnya pada tahun 1995, berdiri kantor yang mengurus hasil tangkapan ikan sekaligus pondokan serupa rumah petak yang dikontrakkan untuk para nelayan.




Berkeliling ke penjuru pantai adalah cara untuk menikmati kemajuan perikanan di Sadeng. Akan tampak sekelompok nelayan yang membersihkan perahu, mengangkut ikan dari perahu ke tempat pelelangan, menggiling es batu untuk dimasukkan dalam kotak ikan sebelum didistribusikan, hingga ibu-ibu nelayan yang mengasuh anak-anak di pondokan. Seluruh warga pantai seolah sibuk dengan aktivitas perikanannya.




Selain itu, bisa juga menyusuri bibir pantai di sebelah timur dan menuju gundukan pasir yang berada di dekat mercusuar. Pemandangan laut lepas akan tampak jelas, beserta deburan ombaknya yang besar. Tak seperti pantai di Gunung Kidul umumnya, Sadeng tak banyak memiliki karang-karang raksasa sehingga pandangan mata tak akan terhalang. Kadang, bisa juga disaksikan perahu nelayan yang tengah melaut.




Mengunjungi Sadeng bagaikan menyaksikan sebuah proses evolusi. Selama perjalanan, bisa dikenang evolusi dataran rendah jalur aliran Bengawan Solo Purba dari tempat mengalirnya air hingga menjadi ladang palawija yang produktif. Sementara, mengunjungi pantainya seolah mengenang pantai yang semula muara sungai menjadi daerah sepi dan akhirnya berkembang menjadi pelabuhan perikanan terbesar di Yogyakarta.

Senin, 19 Agustus 2013

SEJARAH BERDIRINYA KRATON SURAKARTA DAN YOGYAKARTA



Tertulis dalam babad tanah Jawi, dalam ingatan orangtua tentang Prabu Brawijaya Sang Kertabumi, raja di Majapahit bahwa ia memperistri Putri Wandan, dan memperoleh putra tampan berwibawa rupanya, ia disebut Raden Bondan Kejawan Saat ia dilahirkan Majapahit telah mendekati kehancurannya karena itu dititipkanlah ia kepada Ki Juru Sabin apalagi karena ibundanyapun meninggal sewaktu melahirkan Setelah mencapai usia remaja Bondan Kejawan dibawa ke Tarub untuk dibina jiwa dan raganya oleh Ki Ageng Tarub ketika disanalah ia berganti nama menjadi Raden Lembu Peteng


Adapun Ki Ageng Tarub itu sebenarnya putra Dewi Rasawulan yaitu putri tumenggung Tuban Wilatikta yang perkasa ia pun adik Raden Said, yang disebut juga Sunan Kalijaga Ki Ageng itu menikah dengan Dewi Nawang Wulan dan menurunkan seorang anak wanita bernama Dewi Nawangsih maka dengan Dewi Nawangsihlah Bondan Kejawan menikah dan berputra Raden Getas Pandawa, yang lalu menurunkan Ki Ageng Sela, abdi setia, prajurit di kesultanan Demak Ia cakap mengabdi, bahkan turut perang melawan Majapahit tetapi setelah tua kembalilah ia ke desanya di sana menulis sebuah serat pepali untuk anak cucu


Dari putri Sumedang Ki Ageng sela menurunkan dua orang anak yaitu Nyi Ageng Saba dan Ki Ageng Ngenis ing Nglawean Ki Ageng Ngenis adalah pengabdi dan pendukung Mas Karebet bahkan hingga naik takhta dengan gelar Sultan Hadiwijaya Karena jasa-jasanya dari raja Pajang itu memperoleh dukuh Perdikan yaitu Nglaweyan di mana ia kemudian menetap hingga mangkatnya Putra Ki Ageng, yang bernama Ki Gede Pemanahan menjadi abdi Sultan Pajang, dan diangkat menjadi kakak Karena kasihnya ia selalu membela junjungannya hingga berani menghadapi Arya Penangsang dari Jipang seorang musuh Pajang yang sombong dan angkuh sikapnya karena dukungan Ki Juru Mertani, Ki Penjawi dan Sutawijaya berhasillah Ki Gede Pemanahan membinasakan Arya Penangsang yang gugur dalam kemarahan di aliran Bengawan Sore Karena jasanya itu maka Sultan Pajang menghadiahkan Alas Mentaok dan daerah Kadipaten Pati kepada Pemanahan dan kepada Penjawi.


Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat berangkatlah rombongan Ki Gede ke Alas Mataram di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gede Pemanahan Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu Sementara Ki Gede bertirakat di makam Ki Ageng Pengging Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak Di mana rombongan dijamu oleh Ki gede Karang Lo Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir hingga tiba di suatu tempat, disana mendirikan Kota Gede


Semakin lama negeripun semakin berkembang jua malah dilengkapi keraton yang selesai dibangun tahun 1578 Di sanalah Ki Gede Pemanahan memerintah, sebagai bawahan Pajang Hingga akhirnya mangkat dipanggil ke hadirat Sang Pencipta serta dimakamkan di halaman mesjid Agung di Kuto Gede pada tahun ber-candrasengkala “Lunga trus rumpaking bala” Maka Ki Gede Pemanahan meninggalkan tujuh orang anak: Pertama Mas Danang, yang disebut pula Sutawijaya dan sering dipanggil Raden Ngabehi Lor ing Pasar kedua Raden Jambu, ketiga Raden Santri keempat Raden Kedawung, kelima Raden Tompe keenam istri Arya Dadap Tulis, ketujuh istri Tumenggung Mayang


Tersebutlah Sutawijaya ditunjuk Sultan Pajang menjadi pengganti ayahnya, dengan gelar Senopati Ing Alaga Ia adalah pemimpin yang cakap, dan prajurit yang gagah perkasa tegasnya pantas ia menjadi raja, sebagaimana yang dicita-citakannya Sewaktu bertirakat di batu besar Lipura ia mendapat wahyu bahwa akan menjadi raja, yang menurunkan Wangsa Agung diperingati oleh paman Ki Martani, ia menyusuri kali Opak ke arah timur lalu bertapa di laut selatan, yaitu di tepi ombak yang menderu di tempat bernama Sawangan, di wilayah Kanjeng Ratu Kidul Sementara itu Ki Juru Martanipun memberinya dukungan dengan menjalankan prihatin tapa, di lereng gunung Merapi


Setelah itu bersiaplah mereka mempersiapkan kebangunan Mataram menjawab panggilan sejarah, memenuhi amanat leluhur Segala adipati, penguasa, dan tokoh di sekitar Mataram ditundukannya untuk menjadi pendukung usahanya Ki Ageng Mangir, adipati Kulon Progo, yang ingin merdeka dibinasakannya, walau ia adalah seorang menantu yaitu suami Kanjeng Ratu Pembayun, putri Senopati yang suka supaya ayahandanya dan suaminya mau bersatu Seterusnya Senopatipun memperkuat semua pasukannya juga membangun parit dan benteng, seakan menantang Pajang Setelah itu ditemukannya berpuluh dan beratus halaman tempat dituliskannya seribu satu malam alasan untuk tidak datang ke Pajang, dan bersembah kepada raja Marahlah Adiwijaya, Pajang menyerbu, pertempuran pecah di Prambanan gagah orang Mataram berjuang, maka Pajangpun mengundurkan diri Pada perjalanan pulang Sultan Adiwijaya jatuh sakit dan sangat parah keadaannya sewaktu tiba di kota penuh hormat dan kasih Senopati mengiringkan perjalanannya malah menyuruh letakkan serumpun kembalian cinta berupa kembang selasih, yang diletakkan di gerbang istana akhirnya mangkatlah Sri Sultan, terbukalah jalan bagi Mataram Maka kemenangan Mataram itu terjadi pada tahun Saka 1508 dan diperingati dengan Candrasengkala pada gerbang mesjid Agung


Setelah itu mulailah Sang Panembahan Senopati berperang untuk menaklukkan daerah-daerah di tanah Jawa ia pergi bertempur melawan adipati-adipati di timur bahkan pernah pula berlaga melawan Pati berperang melawan Pragola Pertama, putra Ki Penjawi demikianlah hidupnya penuh perjuangan, hingga ia mangkat pada tahun 1601 di Bale Kajenar yang disebut juga Gedhong Kuning seperti ayahandanya iapun dimakamkan di halaman mesjid Agung di ibukota praja Mataram, negeri para perwira


Lalu naiklah raja baru, yaitu Mas Jolang, anak Kanjeng Ratu Pati ia mengenakan gelar Sunan Hadi Prabu Anyakrawati Walaupun sebentar memerintah iapun sering bertempur melawan para adipati di timur dan di pesisir utara serta terus berusaha menanam pengaruh, di Sumatra dan Sukadana Di bidang pembangunan ia rajin memperindah istana juga tekun mendorong perkembangan sastra Sebagai contoh adalah menjadi majunya ilmu pewayangan sebagai buah-tangan hasil karya Ki Dalang Panjang Mas Adapun Sunan Hadi Prabu Anyakrawati mangkat ketika celaka sewaktu melakukan perburuan di Krapyak maka iapun disebut orang Panembahan Seda Krapyak ia dimakamkan di Kota Gede bersama dengan seluruh keluarga istana


Lalu naik takhtalah Mas Rangsang, putra prabu dari Kanjeng Ratu Pajang pembawaannya sungguh seperti Senopati Ing Alaga dan sebagai imam disebut pula Sayidin Panatagama Khalifatullah sedangkan gelarnya adalah Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma Ia adalah negarawan yang berkemauan dan bercita-cita keras bijaksana, jujur, adil, menyukai sastra, dan bertakwa Sejak mulai memerintah tekun membina roda pemerintahan memperkuat tentara dan mengukuhkan kehormatan Mataram kesiagaan kerajaan agung ditingkatkan dan kewaspadaan dijaga sebab dimana-mana timbul tantangan dan perlawanan Tahun 1614 Mataram menyerbu kota-kota Pasuruan dan Lumajang tetapi lalu mundur di kejar gabungan tentara Wetan pecah pertempuran di tepi sungai Andaka dan Matarampun jaya Tahun 1615 di bawah pimpinan Prabu Agung Mataram menyerbu Wirasaba, kota benteng di Maja Agung, diporak-porandakan Tetapi telah berkumpul di Lasem para adipati Wetan dipimpin dipati Surabaya yang ingin menahan kemajuan Mataram Tentara Mataram yang sedang kembali dikejar mundur hingga di Pajang dimana tentara Wetan dipukul mundul Tidak menyerah pada tahun 1616 gabungan adipati Wetan ganti menyerbu di Siwalan-Pajang pecah pertempuran yang dimenangkan Mataram terus Mataram maju menyerang dan merebut Lasem dan pada tahun berikutnya menaklukkan Pasuruan hingga adipatinya terpaksa lari ke Surabaya


Seterusnya pada tahun 1618 Pajang memberontak maka dijarah habis kotanya dihancurkan dan penduduknya digiring ke Mataram Tahun 1619 pelabuhan Tuban di kepung selama berbulan-bulan hingga rakyatnya menyerah karena tak tahan derita Tahun 1620 dan 1621 Mataram menyerbu Surabaya, tetapi gagal sebab selat Madura belum dikuasai, dan bantuan pangan tetap datang dari para sekutu di Madura dan di Sukadana Tahun 1623 Mataram menyerbu lagi dengan ganasnya habis rusak Jortan, Gresik dan seluruh kitaran Surabaya Adipati Kendalpun dikirim untuk merebut Sukadana Tetapi tetap saja Surabaya tangguh bertahan dalam serbuan itu akhirnya gelombang prajurit Mataram menyapu Madura Sumenep, Bangkalan dan Sampang semua tunduk tanpa kecuali banyak para ningrat terbunuh, banyak pula yang lari ke Giri dan Banten Setelah itu dikepunglah Surabaya dan dibendunglah sungai Mas ditaburkan racun dan bisa pada airnya yang menggenang di kota ribuan rakyatnya mati karena penyakit dan kelaparan maka setelah bertempur dengan penuh keberanian dan kegagahan akhirnya Surabaya tunduk dan menyerah kalah Pada tahun 1625 yaitu di puncak kejayaan Mataram dibuatlah meriam Pancawura sebagai lambang kekuasaan Tetapi perang penaklukkan oleh Mataram belum selesai sebab tanah Jawa belumlah semuanya tunduk


Pada tahun 1627 Prabu Agung memimpin pasukan menyerbu Pati karena Pragola kedua terlihat akan memberontak kota Pati dijarah habis dan rakyatnya dijadikan tawanan sedangkan keluarga Pragolapun sirna dari sejarah Jawa Setelah itu bersama tentara Sunda dari Ukur dan Sumedang pasukan Mataram menyerbu kedudukan Belanda di Betawi dalam penyerbuan pertama di tahun 1625 dan dalam penyerbuan kedua di tahun 1626 Walaupun gagah dalam menyerbu Mataram terpaksa mundur karena kuatnya pertahanan kota Belanda di Betawi dan jayanya armada laut serta mutakhirnya persenjataan Beberapa saat setelah itu bergolak pula daerah Kulon karena Ukur dan Sumedang memberontak kepada raja maka dengan dukungan Panembahan Cirebon dan para umbul Sunda menyerbulah Mataram dan memadamkan pemberontakan sedangkan adipati Ukurpun dihukum mati


Tetapi Sultan Agung bukanlah hanya pemenang dalam perang sebab ia juga menjadi pelopor pembangunan dan kebudayaan Kraton didirikan, mesjid diperindah, dan gerbang Tembayat dipugar Ia menulis surat sastra Gending, tentang hal kebatinan yaitu persatuan antara sastra aksara dan gending marifat Ia juga menyatukan tarikh saka dan tarikh hijrah dan memadu perayaan garebeg dengan puasa dan maulud maka di masa itu ia memerintahkan penulisan babad kejayaan Walaupun semua berjalan dengan lancar dan baik terjadi pula beberapa keresahan di Mataram Pada tahun 1630 beberapa pengikut Tembayat dengan dukungan Tepasana dan Kajoran memberontak tetapi kemudian tunduk kepada kewibawaan Prabu Agung Selanjutnya pada tahun 1636 Panembahan Kawis Guwa yaitu keturunan Sunan Giri, menolak kekuasaan Mataram akibatnya Giri diserbu dan Panembahan dikalahkan Pada tahun 1635 Matarampun telah menyerbu Balambangan dan Panatukan yang kukuh bertahan karena bantuan Dewa Agung dari Gelgel Lalu pada tahun 1639 sekali lagi Mataram menyerbu ke timur Setelah menang ingin terus menyerbu ke pulau Bali tetapi rencana dibatalkan karena banyak perwira telah gugur Demikianlah Mataram itu pada puncak kekuasaannya besar, megah dan sangat unggul di sebagian besar Jawa serta dihormati oleh Jambi, Palembang, Banjar dan Makasar yang sering mengirimkan utusan dengan hadiah ke ibu kota Akhirnya pada bulan Februari tahun masehi 1646 mangkatlah Sultan Agung dan dimakamkan di Imogiri yaitu bukit pemakaman keramat keluarga istana yang menjadi lambang dan tanda keagungan Mataram


Lalu naik takhtalah Pangeran Adipati Anom, putra prabu dari Kanjeng Ratu Kulon yang memerintah dengan gelar Susuhunan Amangkurat pertama Pada dirinya itulah terhimpun riwayat dan sejarah keluarga dari pihak ayahandanya berdarah Senopati dan Pamanahan dari pihak ibundanya ia mewarisi darah para pemuka Sunda Sebab ibunda Kanjeng Ratu Kulon bukan saja memiliki Batang, sebagai tanah gaduhan tetapi ia juga putri Panembahan Cirebon, yaitu Panembahan Ratu Sedangkan Panembahan Ratu adalah turunan darah Syarif Hidayatullah yaitu wali yang disebut Susuhunan Gunung Jati, dan Ibunda Gunung Jati adalah Nyi Rara Santang yang saleh adik Panembahan Cakrabuwana, yaitu Raden Arya Santang atau Haji Abdul Iman dan kakak Sunan Rakhmat Suci, yaitu Raden Kian Santang atau Prabu Sagara Maka mereka bertiga itu adalah anak Nyi Ratu Subang Karancang yaitu santri wanita, putri patih Mangkubumi dari Jayasingapura yang dijadikan istri oleh Prabu Siliwangi Ratu Jayadewata penguasa Prahajyan Sunda yang agung dan luhur disebut juga Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran Karena itu pada diri sang Adipati Anomlah bersatu darah Brawijaya, darah Mataram dan darah Siliwangi


Adapun masa pemerintahan Susuhunan Amangkurat Ingalaga Mataram itu penuh dengan kemelut, bencana, dan gejolak musuhnya banyak baik di luar maupun di dalam istana baik di kalangan sentana raja, ulama, maupun penguasa daerah dan sering pula mengalami pecahnya pemberontakan Pada tahun 1647 Balambangan mengangkat senjata dipimpin Tawang Alun yang ingin merdeka dari Mataram maka terjadilah penyerbuan ke timur dan pertempuranpun pecah banyaklah pejabat Mataram yang gugur dalam memadamkan pemberontakan Demikian pula di Mataram Pangeran Alit dibinasakan para pengawal raja karena dengan keris terhunus ingin membunuh kakanda prabu Seterusnya Amangkurat bersilang jalan pula dengan Pamanda Purbaya dan bahkan di kemudian hari dengan anak kandungnya, Adipati Anom yang lahir dari Kanjeng Ratu Surabaya, putri Pangeran Pekik yaitu Adipati Surabaya yang dihukum mati Amangkurat Maka dalam suasana kemelut dan pecah-belah itu kekuatan lawan perlahan-lahan mulai tersusun Trunojoyo, turunan Sampang dan Bangkalan membangkang dibantu Kraeng Galesung, pemimpin pelarian Makasar di Demang-Basuki didukung oleh keluarga besar Kajoran di Klaten yang di pimpin oleh Raden Kajoran Ambalik, yaitu Panembahan Rama bahkan putra mahkota Adipati Anom mulanya bersahabat dengan Trunojoyo


Pada tahun 1675 serangan Madura dan Makasar datang


Dalam keadaan sakit Susuhunan mengundurkan diri ke barat untuk meminta bantuan keluarga ibunya merebut Mataram dengan diiringi keluarga dan para pengawal yang setia dilintasinya Bagelen, pegunungan Kendeng, wilayah Banyumas kemudian terus ke utara menujun ke daerah Batang Sementara itu Adipati Anom bertobat dan menggabungkan diri lalu dari tangan ayahnya menerima semua pusaka kraton Sebelum mencapai Tegal Susuhunan Amangkurat meninggal dunia dan disemayamkan di sebuah bukit kecil di Tegal Arum dan sejak saat itu disebut Panembahan Seda Tegal Arum


Maka hilanglah segala kebingungan dan kelesuan dari putra sang Prabu bangkitlah semangatnya dan bercahaya wajahnya karena wahyu keratuan disebutnya dirinya dengan gelar Susuhunan Amangkurat kedua dan diterimanya pengakuan dari para pangeran dan penguasa Pasir luhur, Batang, Cirebon, Semarang dan Jepara mendukungnya juga diterimanya janji untuk membantu dari Belanda Bersama pasukannya ia maju kearah timur untuk merebut hak tetapi tertahan di batas Mataram, karena ulah kakanda Puger yang dalam keadaan kacau telah mengangkat dirinya menjadi raja maka Amangkurat Amral berbelok ke utara menuju Jepara di sana menandatangani perjanjian dengan Belanda dilepasnya seluruh hak atas Jawa Barat, dan ditanggungnya biaya perang kemudian Belanda merebut seluruh wilayah Pantai utara untuk diserahkan kembali sebagai milik Susuhunan Raja Mataram sendiri merebut Kediri, dimana Trunojoyo ditangkap dengan kerisnya sendiri Susuhunan menghukumnya mati Lalu pada tahun1680 Amangkurat mendirikan istana di Pajang-Wanakerta dan pada tahun 1681 menerima penyerahan diri kakanda Puger tetapi keluarga Kertasana dari Brantas dan Kajoran dari Klaten begitu pula orang-orang Wanakusuma dari Gunung Kidul dengan teguh meneruskan perjuangan mereka hingga kelak bergabung dengan Untung Surapati di tahun 1686


Susuhunan Amangkurat ke dua memerintah hingga tahun 1703 yaitu tahun dimana sang prabu meninggal dunia dan dimakamkan Lalu naik takhtalah putra sang prabu, yaitu Susuhunan Amangkurat ketiga dibantu oleh Patih Nerang Kusuma, Panembahan Cakraningrat dan Untung Surapati raja muda itu ingin mengikis habis pengaruh Belanda di Mataram Pamanda Puger yang ingin menjadi raja merasa dicurigai maka larilah ia ke Semarang untuk meminta bantuan Belanda kembali bersama Belanda ke Mataram ia mengangkat dirinya menjadi raja dan disebut dengan gelar Sinuwun Pakubuwono pertama sedangkan Amangkurat ke tiga dan para pengikutnya lari ke timur untuk meneruskan perjuangan melawan Belanda bersama Surapati Setelah Surapati gugur pada tahun 1706 Susuhunan terus melawan hingga tahun 1708 yaitu ketika ia menyerah kepada Belanda Seterusnya ia diasingkan ke negeri Sailan, hingga mangkat disana pada tahun 1737.


Di negeri Mataram Pakubuwana pertama diikuti oleh yang kedua dan ketiga maka pada masa Pakubuwana ketigalah Pangeran Mangkubumi memberontak Karena ia tak terkalahkan diadakanlah perjanjian Giyanti pada tahun 1755 Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Surakarta dan Yogyakarta di Surakarta berkuasa wangsa Pakubuwana dan di Yogyakarta wangsa Hamengkubuwana Selanjutnya terjadi lagi pemberontakan oleh Raden Mas Said, putra Mangkunegara, yang selama masa peperangan disebut Pangeran Samber Nyawa Iapun tak terkalahkan, sepak terjangnya benar-benar perkasa Pada tahun 1757 diadakanlah perjanjian Salatiga antara Raden Mas Said, Kasunanan dan Kompeni Belanda di mana di sepakati bersama pembentukan wilayah Mangkunegaran Terakhir adalah pembentukan wilayah Paku Alaman Sewaktu Inggris menguasai Jawa dari tahun 1814 hingga 1818 ketika itu Pangeran Natakusuma dianggap berjasa dan diangkat Gubernur Jendral menjadi Sri Paku Alam Kesatu Demikianlah berlalu kebesaran dan kejayaan Mataram untuk dikenang oleh semua orang yang menjadi pewarisnya. RAHAYU